Kamis, 18 Agustus 2011

KUALITAS TANAH


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Dalam usaha pertanian, tanah merupakan media utama untuk melakuakn budidaya. Meskipun telah banyak ditemukan berbagai media tumbuh tanaman, maun semua itu hanya berskala kecil dan belum dapat menggantikan tanah untuk prouksi dalam skala besar. Ooleh Karena itu peranan tanah masih sangat besar dala usaha pertanian.
Kesuburan tanah merupakan hal sering menjadi kajian dalam mempelajari pertanian. Kesuburan tanah di anggap dapat menjamin hasil tanaman selain faktor varietas, pengeloaan tanaman dan hama serta penyakit. Namun untuk menjamin produksi tanaman tidak hanya perlu memperhatikan kesuburan tanah melainkan harusjuga memperhatikan kualitas tanah tersebut. bila usaha menjaga kesuburan tanah hanya  terbatas pada kemampuan tanah mesuplay unsure hara, maka kulitas tanah juga mencakup faktor fisika, kimia dan biologi dengan lebih mendalam serta mempertimbangkan faktor bahan pencemar sebagai kajiannya.
Kualitas tanah meliputi kualitas tanah secara fisika, kimia dan biologi. Ketiga hal tersebut memiliki parameter  masing-masing dan tidak dapat terpisahkan satu sama lain serta saling mempengaruhi. Parameter sifat fisik yang menentukan kualitas tanah antara lain, tekstur, struktur, stabilitas agregat, kemampuan tanah menahan dan meloloskan lain serta ketahanan tanah terhadap erosi dan lain sebagainya. Lalu parameter kimia yang mempengaruhi kualitas taah adalah, ketersediaan unsure hara, KTK, KTA, pH, ada tidaknya zat pencemar, dan lain sebagainya. Sedangkan parameter biologi yang menentukan kualitas tanah anatara lain jumlah dan jenis mikrobia yang ada dan beraktivitas di dalam tanah.
Setiap parameter memiliki peranan tersendiri dalam menentukan kualitas tanah. Dalam pertanian kualitas tanah tentunya berhubungan dengan pertumbuhan dan produksi tanaman. Setiap parameter dapat berpengaruh pada ketersediaan unsure hara, ketersediaan air, keleluasaan akar untuk tumbuh, dan reaksi serta interaksi antara tanaman dengan faktor biotic dan abiotik dalam ekosistem.
Oleh karena itu dalam mengetahui serta mengkelaskan kualitas tanah, maka parameter fisik kimia dan biologi tanah harus diuji lebih dahulu. dengan menguji kualitas dari setiap parameter tersebut, maka kualitas tanah dapat diketahui secara menyeluruh. Hal ini karena untuk menentukan tingkat kualitas tanah, parameter fisik, kimia dan biologi tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

B.     Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adlah untuk mengetahui kualitas tanah di dua lokasi yang berbeda serta membandingkat kualitas tanah di kedua lokasi tersebut.















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Kelas Tekstur Tanah
Tekstur Tanah
Persentasi Fraksi Tanah
Lempung berat
Lempung > 60%, Debu ≤ 40%
Lempungan
Lempung ≥ 50%, Debu ≤ 50%
Lempung pasiran
Pasir 20%, Lempung ≥ 40%, Debu ≥ 40%
Lempung debuan
Lempung ≥ 40%, Debu ≤ 60%
Geluh lempung pasiran
Lempung ≥ 20%, Pasir ≤ 80%
Geluh lempungan
Lempung ≤ 40%, Debu ≥ 60%
Geluh lempung debu
Lempung ≤ 40%, Debu ≥ 60%
Geluh pasiran
Lempung ≤ 20%, Pasir ≥ 80%
Geluhan
Pasir ≤ 40%, Lempung ≥ 20%, Debu ≥ 60%
Geluh debuan
Pasir ≥ 20%, Debu ≥ 60%, Lempung ≥ 20%
Pasir geluh
Pasir ≤ 80%, Lempung ≤ 20%
Debuan
Pasir ≤ 20%, Debu ≥ 80%
Pasiran
Pasir ≥ 80%, Lempung ≤ 20%
Sumber : Anonim. 2006. Modul Kuliah Dasar-Dasar Ilmu Tanah
Struktur Tanah
Struktur tanah adalah susunan antar partikel tanah primer (bahan minerak seperti pasir, debu, lempung) dan bahan organik serta oksida membentuk agregat tanah. Agregat tanah meliputi bahan padatan dan pori tanah. Dalam menentukan struktur tanah harus terlebih dahulu ditetapkan:

Kerapatan Butir Tanah (BJ)
Berat jenis tanah ditentukan oleh kadar bahan organik, apabila bahan organik tinggi maka nilai berat jenis tanah semakin rendah. Penentuan berat jenis dilakukan secara kuantitatif menggunakan Picno Meter.

 Kimia Tanah
a. pH Colorimetris Tanah
pH colorimetris adalah metode dalam pengukuran nilai pH dengan menggunakan larutan indikator dan kertas pH. pH tanah itu sendiri adalah konsentrasi ion H yang ada dalam tanah dan terkandung pada larutan tanah maupun di bagian kompleks tanah.
1) pH H2O
merupakan kemasan aktual atau aktif, yaitu konsentrasi ion H+ dalam larutan tanah.
2) pH KCl
Merupakan kemasaman potensial atau kemasaman tertukarkan, yaitu konsentrasi ion H+ yang diadsorbsi koloid tanah.
Kondisi tanah
pH (H2O)
Kondisi tanah
pH (H2O)
Luar biasa masam
<>
Netral
6,6 – 7,3
Masam sangat kuat
4,5 – 5,0
Agak basis
7,4 – 7,8
Masam kuat
5,1 – 5,5
Basis sedang
7,9 – 8,4
Masam sedang
5,6 – 6,0
Basis kuat
8,5 – 9,0
Agak masam
6,1 – 6,5
Basis sangat kuat
79,0
Sumber: Anonim. 2006. Modul Kuliah Dasar-Dasar Ilmu Tanah.
Kadar Bahan Organik Tanah (BO)
Bahan organik adalah bahan mineral tanah yang berasal dari sisa/jasad-jasad makhluk hidup. Bahan organik berfungsi untuk merekatkan partikel-partikel tanah, sehingga membentuk agregat tanah sifat ini disebut dengan istilah Cementing Agent. Pengaruh bahan organik pada tanah antara lain:
· Memperbaiki sifat fisika tanah seperti; menghindarkan erosi, memperbaiki struktur tanah, kemampuan tanah menyerap air (pasir), dan memperbaiki aerase dan drainase tanah.
· Memperbaiki sifat kimia tanah, seperti; KPK (Kapasitas Pertukaran Kation) dan menambah unsur hara tanah dari dekomposisi bahan organik.
· Sifat Biologi, seperti; Meningkatkan aktivitas mikroorganisme karena bahan organik menjadi sumber energinya.
Tabel 13. Harkat angka bahan organik tanah;
Sifat Kimia Tanah
Harkat (%)
Bahan organik tanah
0 - 50
Kerapatan Massa Tanah (BV)
Berat volume tanah adalah perbandingan antara berat bongkah tanah dan volume bongkah tanah dan dinyatakan dalam gr/cm3. Pengukuran berat volume diperlukan sebagai petunjuk untuk mengetahui kepadatan tanah porositas tanah. Nilai berat volume dipengaruhi oleh tekstur tanah (semakin halus tekstur tanah, nilai BV semakin besar), kedalaman / jeluk tanah, kadar bahan organik, berat jenis, mineral penyusun tanah dan tipe strukturnya.
Porositas Tanah
Porositas tanah adalah persentasi pori yang terkandung di dalam tanah. Porositas berpengaruh terhadap gerakan lengas / air di dalam tanah, temperatur, sirkulasi udara, ketersediaan unsur hara, ruang perakaran dan pengolahan tanah.
Volume pori terdiri atas 3, yaitu:
1. Pori besar (makro) : didominasi oleh pori untuk sirkulasi udara, ukurannya > 10µm
2.    Pori sedang : rerata diameternya 0,2 - 10µm
3.    Pori kecil (mikro) : rerata diameter <>




BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A.    Waktu dan Tempat
Praktikuk ini dilaksanakan pada tanggal 2 Juni untuk bengambilan contoh tanah di bagian Utara Kampus lama Fakultas Pertanian Universitas Mataram dan Lahan percobaan kampus baru Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Lalu pada tanggal 6 s/d 16 Juni 2011 untuk analisis sifat kimia, biologi dan fisika di Laboratorium Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Mataram.

B.     Pelaksanaan Praktikum
  1. Sifat Fisika Tanah
1.1.    Pengukuran Tekstur
a.       Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan yaitu sampel tanah yang telah diayak menggunakan ayakan 0,05, NaOH, dan aquades.
Alat yang digunakan yaitu tabung sedimentasi dan rak tabung.

Langkah Kerja
Langakah kerja pada praktikum ini yaitu:
1.      Disiapkan 3 tabung sedimentasi pada rak tabung
2.      Dimasukkan sampel tanah hingga garis 15
3.      Ditambahkan 1 mL NaOH
4.      Ditambahkan aquades hingga garis 45
5.      Ditutup mengunakan plastik bening
6.      Dikocok selama 2 menit
7.      Ditunggu selama 30 detik
8.      Dipisahkan endapan pasir dengan larutan, dengan cara dipindahkan larutan tersebut ke tabung sedimentasi lainnya
9.      Ditunggu 30 menit,
10.  Dipisahkan endapan debu dari larutan, dengan cara dipindahkan larutan tersebut ke tabung sedimentasi lainnya
11.  Ditunggu hingga liat telah mengendap
12.  Dicatat tinggi endapan pada tiap-tiap tabung sedimentasi
13.  Diulang semua langkah kerja di atas untuk semua sampel tanah lainnya

1.2.   Pengukuran Kadar Lengas
a.       Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan yaitu sampel tanah yang telah diayak menggunakan ayakan 0,05, NaOH, dan aquades.
Alat yang digunakan yaitu tabung sedimentasi dan rak tabung.

b.      Langkah Kerja
Langakah kerja pada praktikum ini yaitu:
1.      Ditimbang cawan kosong (a)
2.      Dimasukkan sebongkah sampel tanah, kemudian ditimbang (b).
3.      Dimasukkan kedalam oven selama 24 jam.
4.      Dikeluarkan dari oven dan didinginkan.
5.      Ditimbang cawan berisi tanah setelah dioven (c)
Berikut perhitungan untuk mendapatkan kadar lengas (KL):

1.3.    Pengujuran BJ
a.    Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan yaitu sampel tanah yang telah diayak menggunakan ayakan 0,05, dan aquades.
Alat yang digunakan yaitu 12 buah piknometer, timbangan analitik, dan termometer.

b.      Langkah Kerja
Langakah kerja pada praktikum ini yaitu:
1.      Disiapkan 12 buah piknometer yang telah diberi label (sampel, ulangan)
2.      Ditimbang piknometer kosong (a)
3.      Dimasukkan aquades hingga hampa udara, kemudian ditimbang (b)
4.      Diukur suhu aquades pada setiap piknometer, kemudian dikonversikan (BJ1)
5.      Dibuang aquades tersebut hingga bersih
6.      Ditambahkan 5 g sampel tanah, kemudian ditimbang (c)
7.      Ditambahkan aquades hingga setengahnya, kemudian dikocok
8.      Dibersihkan mulut piknometer menggunakan aquades hingga piknometer terisi penuh aquades (hampa udara)
9.      Didiamkan selama 2 jam (sebaiknya 1 hari)
10.  Diukur suhu aquades, kemudian dikonversikan (BJ2)

Perhitungan Bj dapat dilakukan denga persamaan berikut,

                                                                                                                       




1.4.   Pengukuran BV
Untuk mengetahui nilai BV maka diperlukan data mengenai:
1.      Berat bongkahan tanah (a)
2.      Berat bongkah tanah setelah dicelupkan ke lilin(b)
3.      Berat kenaikan air setelah dimasukkan bongkahan tanah (x)
4.      Kadar lengas tanah (KL)
Perhitungan BV dapat dilakukan dengan persamaan sebagai berikut,



Kemudian porositas dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut,


2.      Sifat Kimia Tanah
2.1.   Pengukuran Nitrogen Total
a.       Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan yaitu sampel tanah yang telah diayak menggunkan ayakan 0,05, katalisator (K2SO4 + CuSO4), asam sulfat (H2SO4), asam borat (H3BO3) 1N, NaOH 40%, batu didih, minyak paravin, indikator metil red (merah), penitrasi (H2SO4 0,05N), dan aquades.
Alat yang digunakan yaitu 13 buah labu destruksi, pemanas (alat destruksi), pipet 10 mL, 13 buah gelas piala 100 mL, 1 paket alat destilasi, 13 buah labu destilasi, dan alat titrasi.

b.      Langkah Kerja
-          Destruksi
a.       Disediakan 13 buah labu destruksi
b.      Dimasukkan 0,5 g sampel tanah
c.       Ditambahkan 1 g katalisator (K2SO4 + CuSO4)
d.      Ditambahkan 6 mL asam sulfat (H2SO4)
e.       Dilakukan pendestruksian menggunakan pemanas (alat destruksi) selama ± 4 jam (sebaiknya1 hari).
f.       Didinginkan hingga benar-benar dingin.
g.      Ditambahkan 50 mL aquades
h.      Dikocok hingga tercampur, dan didiamkan hingga mengendap.
-          Destilasi
a.       Disiapkan 13 labu destilasi
b.      Dimasukkan 4 butir batu didih
c.       Ditambahkan cairan (poin 1h) , endapan tanah tidak boleh ikut dimasukkan
d.      Ditambahkan 2 tetes minyak paravin
e.       Diletakkan labu destilasi pada alat destilasi
f.       Disediakan 13 gelas piala
g.      Dimasukkan 20 mL asam borat (H3BO3) 1N
h.      Tibambahkan 2 tetes metil red
i.        Diletakkan pada alat destilasi
j.        Ditambahkan 20 mL NaOH 40% ke labu destilasi (poin 2a)
k.      Dinyalakan alat destilasi (air tetap mengalir)
l.        Dihentikan proses destilasi setelah larutan pada gelas piala (poin 2j) mencapai 60 mL.
**catatan: penangkap N (asam borat) tidak boleh berinteraksi dengan udara dalam waktu yang lama.
-   Titrasi
a.               Dipastikan saluran pada alat titrasi tidak terdapat ruang udara (diketahui dengan cara mengeluarkan cairan penitrasi  dengan memutar tuas ke depan, hingga tak ada lagi ruang udara).
b.    Diputar tuas hingga mentok (tak dapat diputar lagi) ke belakang.
c.               Dilakukan titrasi menggunakan H2SO4 0,05N secara perlahan hingga warna berubah menjadi merah muda bening (sesuai blanko).
Setelah dilakukan titrasi maka hasil yang didapatkan diformulasikan dalam persamaan sebagai berikut

2.2.  Pengukuran C- organik
a.       Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan yaitu sampel tanah yang telah diayak, H2SO4 Pekat, K2Cr2O7 2N, dan aquades.
Alat yang digunakan yaitu timbangan analitik, labu ukur 100 mL, penangas air, spektofotometer.
b.  Langkah Kerja
Langakah kerja pada praktikum ini yaitu:
1.      Ditimbang 0,5 g tanah
2.      Dimasukkan ke labu ukur 100 mL
3.      Ditambahkan 7,5 mL H2SO4 Pekat dan 5 mL K2Cr2O7 2N
4.      Didiamkan hingga dingin
5.      Dipanaskan menggunakan penangas air selama 1, 5 jam, dan digoyang-goyangkan tiap 30 menit.
6.      Diencerkan dengan cara ditambahkan aquades hingga setengahnya, digoyang-goyangkan, dan dibiarkan selama 5 menit, kemudian ditambahkan lagi aquades hingga garis 100 mL.
7.      Diamkan selama sehari hingga bening
8.      Diukur nilai absorben larutan menggunakan spektofotometer.



3.      Sifat Biologi Tanah
3.1.   Perhitungan Respirasi Mikrobia
a.   Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan yaitu sampel tanah yang telah diayak menggunakan ayakan 0,05, NaOH, KOH 0,2 N, indicator fenolftalein, HCl 0,1 N, dan aquades.
Alat yang digunakan yaitu botol respirator, labu Erlenmeyer, pipet, alat titrasi (buret).

b.      Langkah Kerja
Langakah kerja pada praktikum ini yaitu:
1.      Disediakan botor respirator
2.      Ditimbang masing-masing tanah sebanyak 100 g
3.      Dimasukkan tanah tersebut kedalam botol respirator
4.      Dirangkai alat respirator.
5.      Disiapkan bahan KOH 0,2 N dalam erlemnyer, kemudian dimasukkan selang kedalam erlemeyer. (selang harus masuk ke dalam larutan)
6.      Didiamkan selama 24 jam
7.      Ditambahkan indicator fenolftalein sebanyak 2 tetes
8.      Kemudian dititrasi menggunakan HCl 0,1 N
9.      Diukur dan dicacat berapa banyak HCl 0,1 N yang digunakan

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam menilai atau membandingkan kualitas tanah, maka setiap parameter sifat kimia, biologi, dan fisika tanah harus diketahui. Semua sifat tersebut akan menentukan apakah tanah tersebut merupakan media tumbuh yang baik. tanah yang berkualitas baik adalah tanah yang mampu menyediakan hara yang dibutuhkan oleh tanaman, mampu menyediakan air, serta bebas dari unsure pencemar yang dapat menghambat pertumbuhan serta produksi tanaman budidaya serta memberi ruang yang leluasa bagi akar tanaman untuk berkembang.
Sifat tanah baik itu sifat kimia, biologi dan fisika tidak dapat terpisahkan satu sama lain untuk menilai kualitas tanah di suatu tempat. Oleh karena itu dalam praktikum ini dilakukan analisis dan perbandingan sifat-sifat tanah dari dua tepat yang berbeda. Untuk sifat fisika analisis yang dilakukan adalah tekstur tanah, kadar lengas, BJ, BV, dan porositas. Lalu sifat kimia yang dianlisis adalah kadar Nitrogen Total, dan Kadar Bahan Organik. Dan yang terkahir untuk parameter sifat biologinya adalah respirasi mikrobia tanah.
Berikut akan disajikan hasi praktikum serta pembahan tentang kaitan antara semua parameter yang diujikan di atas dengan kualitas tanah.
A.    Sifat Fisika Tanah
1.      Kadar Lengas
Adapun hasil dari pengukuran kadar lengas dapat dilihat pada table berikut.
Sampel
Lapisan tanah
Ulangan
Parameter yang diukur
a (g)
b (g)
c (g)
KL (%)
Rata-rata (%)
A (kampus lama)
Top Soil
1
16.79
25.31
23.68
23.66
15.10
2
16.79
22.46
21.89
11.18
3
14.00
20.22
19.63
10.48
Sub Soil
1
15.33
20.55
19.67
20.28
13.05
2
17.11
24.66
24.00
9.58
3
16.79
24.07
23.45
9.31
B (kampus baru)
Top Soil
1
16.94
22.62
22.10
10.08
6.66
2
14.54
21.15
20.70
7.31
3
17.03
23.36
23.20
2.59
Sub Soil
1
16.80
22.60
22.15
8.41
5.30
2
16.28
24.89
24.60
3.49
3
15.35
24.47
24.12
3.99

Kadar lengas menunjukkan kadar air yang ada didalam tanah. air memiliki berbagai fungsi bagi tanaman. Fungsi tersebut antara lain, sebagai pembangun sel tanaman, sebagai pelarut unsure hara, dan sebagai unsure hara. Air diserap oleh tanah melalui akar. Dengan kata lain air yang dapat dimanfaatkan oleh tanamna adalah air yang ada di dalam tanah. Oleh karena itu kandungan air dalam tanah (kadar lengas) memiliki peranan yang sangat penting.
Tanah yang berkualitas baik yaitu tanah yang memiliki kadar lengas yang cukup tinggi namun tidak terlalu tinggi. Ketika kadar lengas tanah terlalu rendah maka air yang dapat diserap tanaman juga akan sedikit. Namun jika kadar lengas terlalu tinggi, maka pori tanah akan jenuh dengan udara sehingga menyebabkan aerasi menjadi terganggu.
 Dari hasil yang ada diatas, tidak ada perbedaan yang mencolok antara tanah yang diambil ditempat dan kedalaman yang berbeda. Idealnya  tanah terdiri dari 25% air. Dan berdasarkan data di atas tanah diatas memiliki kadar lengas yang cukup baik. Namun dalam praktikum ini hasil yang diberikan tmenunjukkan deviasi yang cukup besar. Hal ini karena kurang homogennya contoh tanah  diamati kadar lengasnya.
2.    BJ, BV dan Pororsitas
Adapun hasil yang didapatkan dari pengukuran BJ, BV dan Porositas dalam praktikum ini  dapat dilihat pada table berikut.
Sampel
Lapisan tanah
Ulangan
BJ
BV
Porositas (%)
Rata-rata porositas
A (kampus lama)
Top Soil
1
1.75
0.99
43.58
36.57
2
1.89
1.23
35.03
3
1.95
1.34
31.10
Sub Soil
1
1.84
1.79
2.78
16.49
2
2.02
1.48
26.71
3
2.08
1.66
19.99
B (kampus baru)
Top Soil
1
1.67
1.38
17.25
30.72
2
2.04
1.33
34.79
3
2.35
1.41
40.10
Sub Soil
1
2.46
2.14
12.94
28.21
2
2.55
1.73
32.15
3
2.54
1.53
39.55
Tabel Hasil Perhitungan BJ, BV, dan Porositas Tanah

Porositas tanah berpengaruh pada daya simpan air tanah dan kemampuan tanah dalam mempertukarkan udara. Hal-hal  tersebut sangat penting, karena tanaman sangat membutuhkan udara dan air. Porositas juga memberikan ruang bagi akar tanaman untuk tumbuh dan mencari unsure kara dengan lebih leluasa. Tanah yang kualitasnya baik memiliki porositas yang tidak terlalu sedikit dan tidak juga terlalu besar. Porosotas yang kecil akan menyebabkan aerasi tanah tergamnngu dan mengganggu pertumbuhan akar. Sedangkan porositas yang terlalu besar akan menyebabkan tanah sulit mengikat air sehingga tanaman akan kekurangan air. Dalam praktikum ini dapat dilihat bahwa tanah yang diambil di tempat yang berbeda serta kedalaman yang berbeda menunjukkan hasil pororsitas yang berbeda. tanah yang belum pernah diolah seperti yang di ambil pada lokasi 1 memiliki porositas yang berbeda mencolok topsoil dan subsoilnya. Porositas tanah topsoil lebih tinggi dari pada porositas subsoil. Hal ini menunjukkan bahwa tanah pada subsoil lebih padat dibandingkan dengan tanah pada top soil.  antarahal ini karena secara alami tanah pada subsoil mengalami tekanan dari atas oleh tanah yang ada pada bagian topsoil. Akibat dari tekanan tersebut menyebabkan pori tanah mengecil karena tanah akan semakin padat.
Sedangkan tanah yang diambil dilokasi kedua menunjukkan porositas yang tidak mencolok perbedaannya. Hal ini kemungkinan karena tanah ditempat tersebut sudah sering diolah sehingga yang terlihat bukan laghi kondisi alami dari tanah tersebut. selain itu pengolahan tanah membaurkan sifat fisik tanah seperti  porositas pada stetiap lapisan tanah.
3.      Tekstur
Adapun tekstur pada kedua lokasi dengan kedalam yang berbeda adalah sebagai berikut.
sample
ulangan
% pasir
% debu
% liat
kelas tekstur
top 1
a
66.7
33.3
0.0
 Sandy Loam

b
66.7
33.3
0.0
 Sandy Loam

c
66.7
33.3
0.0
 Sandy Loam
top 2
a
53.3
46.7
0.0
 Sandy Loam

b
53.3
46.7
0.0
 Sandy Loam

c
53.3
46.7
0.0
 Sandy Loam
sub 1
a
66.7
30.0
3.3
 Sandy Loam

b
66.7
30.0
3.3
 Sandy Loam

c
66.7
30.0
3.3
 Sandy Loam
sub 2
a
60.0
20.0
20.0
 Sandy Loam

b
60.0
20.0
20.0
 Sandy Loam

c
60.0
20.0
20.0
 Sandy Loam
Tektur juga menentukan porositas tanah. tanah yang didominasi fraksi pasir cendrung lebih porus datau memiliki porositas yang besar. Tanah dengan tekstur seperti ini akan sulit menahan air. Karena jumlah pori mikro yang berfungsi menahan air sangat sedikit.namun jika tanah yang didominasi oleh liat akan memiliki jumlah pori mikro yang bersar dan jumlah pori makro yang sedikit. Hal ini akan menghambat aerasi tanah sehingga tidak terjadi pertukaran udara yang akan menghambat respirasi akar dan mirobia tanah.
Tanah yang dianalisis ini seluruhnya memiliki tekstur Snady Loam. Tektur ini cukup naik karena tekstur yang masuk kedalam kalas loam memiliki jumlah pori makro dan mikro yang cendrung seimbang. Hal ni sangat bagus bagi ketersediaan air bagi tanaman dan aerasi bagi kelangsungan aktivitas mikrobia dan respires akar.


B.    Sifat Kimia Tanah
1.      N Total
Hasil pegukuran N total yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut.
sample
lokasi
ulangan
A
B
N total
top soil
1
a
1.2
0.04
2.01


b





c
1.36
0.04
2.04

2
a
1.98
0.04
3.32


b
2.21
0.04
3.63


c
2.3
0.04
3.24
subsoil
1
a
0.44
0.04
0.67


b
0.38
0.04
0.52


c
0.47
0.04
0.66

2
a
0.45
0.04
0.70


b





c



Unsure Nitogen adalah unsure yang termasuk dalam golongan unsure hara makro primer esensial. Unsure nitrogen merupakan unsure yang tidak terkandung dalam batuan mineral manapun. Satu-satunya sumber alami Nitrogen adalah udara. Nitrogen masuk kedalam tanah melalui reaksi-reaksi tertentu yang masuk kedalam siklus Nitrogren.
Nitrogen adalah unsure hara yang sifatnya sangat mobil. Hal ini karena nitrogen mudah larut dan menguap. Oleh karena itu kadar nitrogen total digunakan sebagai standar dalam mengukur jumlah nitrogen dalam tanah.
Berdasarkan hasil yang didapatkan dalam praktikum ini, Nitrogen total cendrung lebih banyak terdapa dilapisan atas tanah. Hal ini karena, salah satu cara Nitrogen diambil dari udara ketanah adalah dengan bantuan mikrobia. Mikrobia cendrung lebih banyak ada dan melakukan aktifitasnya disekitar akar. Hal ini yang menyebab kadar Nitrogen total yang ada ditanah bagian atas lebih banyak. Tanah pada lokasi kedua memiliki kadar Nitrogen total lebih banyak dibadingkan dengan tanah yang ada dilokasi pertama. Hal kemungkinan karena lahan ini sudah sering dilakukan pemupukan dan pemberian baha organik. Mengingat bahwa lokasi kedua merupakan lahan percobaan sedangakan lokasi pertama adalah lahan yang hamper tidak pernah pengalami perlakuan apapun.
2.      Bahan Organik
Adapun hasil pengujian bahan organik dalam praktikum ini menunjukkan hasil sebagai berikut.
sample
ulangan
C ORGANIK
ppm
FK=(100+%KL)/100
c% = 0,02*ppm C*FK
top 1
a
0.26
147.01
1.24
3.63
b
0.27
148.62
1.11
3.30
c
0.27
151.32
1.10
3.34
top 2
a
0.13
75.83
1.22
1.85
b
0.13
77.45
1.20
1.85
c
0.13
77.45
1.02
1.58
sub 1
a
0.05
30.54
1.20
0.73
b
0.05
29.46
1.10
0.65
c
0.04
27.30
1.09
0.60
sub 2
a
0.03
18.68
1.22
0.46
b
0.02
16.52
1.03
0.34
c
0.03
19.75
1.04
0.41
Bahan organik memiliki peranan yang sangat besar bagi kesuburan tanah dan kualitas tanah. bahan organik memiliki peranan pada sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. oleh kerena itu bahan organik masuk kedalam parameter yang menentukan kualitas tanah.
Bahan organik biasanya terdapat pada topsoil. Hal ini karena penambanhan bahan organik dari sisa-sisa makhluk hidup memumpuk diatas permukaan tanah. bahan organik pada lokasi pertama menujukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi kedua. Hal ini kerana tanah dilokasi pertama tidak pernah digunakan untuk bercocok tanam dengan kondisi sekitar yang cukup baik unutk menumpuk bahan organk dari sisa makhluk hidup. Selain itu tanah silokasi kedua sudah sering digunakan untuk bercocok tanam sehingga bahan organik ditempat tersebut telah berkurang dari kondisi aslinya. Meskipun dilakukan penembahan bahan organik, kondoso lahan yang tidak teertutupi oleh tanaman yang cukup besar menyebabkan bahan organk cepat teroksidasi.
C.    Sifat Biologi
Parameter sifat bioogi yang diujikan dalam praktikum ini hanya terdiri dari respirasi mikrobia. Respirasi mikrobia menunjukkan tingkat aktivitas mikrobia. Semaikin tinggi respirasi mikrobia maka dapat disimpulkan bahwa semakin aktif mikrobia itu melakukan aktivitasnya. Dalam praktikum kali ini hasil yang didapat dari pengujian respirasi mikrobia adalah sebagai berikut.
sample
lokasi
ulangan
blanko
sample
N
respirasi
respirasi/jam
top soil
1
a
14.500
6.100
0.100
0.840
0.018


b
15.200
5.800
0.100
0.940
0.020

2
a
9.100
5.100
0.100
0.400
0.009


b
9.100
8.500
0.100
0.060
0.001
subsoil
1
a
15.200
6.300
0.100
0.890
0.019


b
15.200
14.600
0.100
0.060
0.001

2
a
14.300
8.600
0.100
0.570
0.012


b
14.300
11.600
0.100
0.270
0.006
CO2 1

a
14.500
14.100
0.100
0.040
0.001


b
9.100
8.500
0.100
0.060
0.001
CO2 2

a
14.300
5.100
0.100
0.920
0.020


b
14.500
12.500
0.100
0.200
0.004
Respirasi mikrobia akan menunjukkan aktivitas mikrobia didalam tanah. Aktivitas mikronia akan meningkatkan kualitas tanah karena beberapa mikrobia dapat meningkatkan kesuburan tanah melalui reaksi biokimia yang terjadi dalam tubuhnya. Selain itu bebrapa mikrobia membantu mangkap unsure hara dan melarutkan unsure hara yang sulit tersedia bagi tanaman. Namun respirasi mikrobia akan meningkatkan kadar CO2 yang akan tereppas keudara sehingga menambah gas rumah kaca di atmosfer. Selain itu aktivitas mikrobia sangat ditentukan oleh kadar bahan organik tanah. hal ini karena bahan organik merupakan sumber materi bagi mikrobia.
Secara umum tanah dari kedua tempat pengambilan sampel tergolong memiliki kualitas yang baik. dimana sifat fisika, kimia, dan biologi tanah menunjukkan angka yang tidak terlalu tinggimaupun terlalu rendah. Tanah sebagai badan alam selalu berusaha menyeimbangkan kondisinya sendir. Jadi kondisi yag berimbang dari sifat fisika, kimia dan biologi menunjukkan kualitas yang baik dari tanah.
Secara umum tanah dari lokasi pertama memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan tanah dari lokasi kedua. Kecuali porositas, tanah dari lokasi pertama menunjukkan hasil analisis sifat fisika, kimia, biologi tanah yang lebih baik. Namun tanah dari lokasi pertama memiliki porositas yang kurang ideal pada lapisan subsoil. Hasil pengukuran porositas menunjukkan bahwa rata-rata parositas subsoil pada lokasi pertama  adalah 16,49 %.  Hal ini masih berada dibawah garis ideal. Karena tanah secara idela harus memiliki 25-50 % pori tanah dari keseluruhan bagian tanah.
  
BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Adapun yang dapat disimpulkan dalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut.
1.      Secara umum tanah pada lokasi pertama dan kedua memiliki kualitas yang baik
2.      Tanah pada lokasi pertama memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan tanah pada lokasi kedua.
3.      Faktor ang membatasi kualitas tanah pada lokasi pertama adalah porositas tanah pada lapisan sub soil.

B.    Saran
Pemberian bahan organik, pengelolaan tanah, air, dan tanaman akan memperbaiki serta meningkatkan kualitas tanah disuatu tempat. Dalam melakukan suatu analisis sebaiknya dilakukan denga teliti dan hati-hati agar tidak terjadi kesalahan dalam analisis dan data yang dihasilkan.
  

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006.Modul Kuliah Dasar-Dasar Ilmu Tanah.
Anonim, 2009.Modul kuliah pengantar Dasar Ilmu Tanah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar