Senin, 04 Juli 2011

PENCEMARAN TANAH OLEH PUPUK

PENCEMARAN LOGAM BERAT Dalam TANAH AKIBAT PUPUK Dan CARA PENANNGULANGANNYA

Pendahuluan

Pupuk adalah suatu bahan penyubur tanaman yang diberikan melalui tanah maupun langsung ketanaman dengan cara disemprotkan kedaun (Mulyati, 2006). Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa pupuk diperlukan untuk dapat meyuburkan tanaman sehingga dapat memberi hasil yang optimal bagi manusia. pupuk dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara salah satunya berdasarkan proses pembuatan dan senyawa yang terkandung dalam pupuk itu sendiri. Berdasarkan proses pembuatannya pupuk dapat di bedakan menjadi dua. Yaitu;
1.      Pupuk alam, yaitu pupuk yang terbuat dari bahan alam dan proses terbentuknya berlangsung secara alami. Contoh; pupuk kandang, pupuk hijau, pupuk kompos, pupuk batuan silikat pupuk batuan fosfat pupuk zeolit dan sebagainya.
2.      Pupuk buatan, yaitu pupuk yang diproduksi oleh pabrik. Umumnya mengandung hara yang telah ditetapkan macam dan komposisinya. Contohnya; urea, SP-36 dll.
Sedangkan pupuk berdasarkan senyawa yang terkandung dapat terbagi menjadi;
  1. Pupuk organik, yaitu pupuk yang mengandung senyawa organik dan berasal ari makhluk hidup yang telah mati.
  2. Pupuk an-organik, yaitu pupuk yang mengandung senyawa an-organik dan bahan dasarnya berasala dari mineral.
Setiap jenis pupuk memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sebagai contoh unsure hara dalam pupuk an-organik lebih cepat tersedia dibandingkan dengan unsure hara dalam pupuk organik. Namun pupuk organik cendrung lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan pupuk an-organik. Hal tersebut yang ikut memberi perbedaan antara pupuk organik dengan pupuk anorganik selain perbedaan mendasar seperti jenis senyawa yang terkandung dalam masing-masing pupuk.
Dalam aplikasinya selain menbawa dampak baik terhadap pertumbuhan tanaman serta hasil tanaman, pupuk juga membawa dampak negatif bagi lingkungan yang baik langsung maupun tidak akan mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman serta keseatan masnusia. Dampak negatif dari pupuk adalah dapat menjadi sumber pencemar baik di tanah, air, dan udara.
Dalam UU No 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, pencemran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah di tetapkan.
Pupuk dikategorikan sebagai sumber pencemar karena adanya kandungan unsure serta senyawa tertentu yang masuk kedalam suatu sistem dimana unsure maupun senyawa tersebut tidak diperlukan dalam jumlah banyak atau dapat membahayakan komponen dalam lingkungan tersebut. zat pencemar yang berasal dari pupuk biasanya berupa logam berat maupun senyawa yang merupakan residu dari pupuk. Residu apabila terakumulasi akan mencemari lingkungan dan akan mempengaruhi kehidupan makhluk hidup ditempat terakumulasinya residu pupuk tersebut. akumulasi tersebut terjadi karena penggunaan pupuk yang berlebihan dan tidak berimbang.
Dalam dunia pertanian pencemaran yang menjadi pokok perhatian adalah pencemaran yang terjadi di tanah. hal ini karena tanah merupakan media tumbuh tanaman dan yang dominan menerima dampak langsung dari pencemaran yang disebabkan oleh pupuk.
Polutan yang sering menjadi masalah ditanah yaitu logam berat. Tanah secara alami mengandug logam berat dengan kadar yang rendah. Hal ini menyebabkan logam berqat pada kondisi lingkungan yag alami tidak menjadi masalah. Namun akibat campur tanga manusia terhadap lingkungan seperti pemupukan, maka logam berat tersebut terakumulasi dan menjadi ancaman bagi kelestarian lingkungan terutama tanah. Oleh karena itu dalan tulisan ini akan dibahas mengenai hubungan pemupukan dan akumulasi logam berat sebagai penyebab pencemaran tanah. Dengan sedikit informasi mengenai hubungan serta potensi dan hubungan anatara pemupukan dengan akumulasi logam berat yang menjadi penyebab pencemaran tanah maka diharapkan agar akan mempermudah pengambilan keputusan penanggulangan pencemaran logam berat akibat penggunaan pupuk.


Logam Berat

Logam berat adalah  unsur logam yang memiliki berat molekul yang tinggi. Umumnya bersifat racun, baik bagi tanaman maupun hewan. Contonya Hg, Pb, Ni, Cd, Cr. As dan masih banyak  lagi ( Am. Geol. Inst, dalam Charlena, 2004). Menurut subowo et al. (1999) adanya logam berat dalam tanah pertanian dapat menururnkan produktivitas pertanan dan kualitas hasil pertanian selain dapat membahayakan kesehatan manusia melalui konsumsi pangan yang dihasilakan dari tanah yang tercemar logam berat tersebut. Karakteristik logam berat ialah memiliki berat jenis > 4, bernomor atom 22-34 dan 40-50. Logam berat memilki respon biokimia spesifik pada makhluk hidup. Logam berat yang telah diketahui  berjumlah lebih dari 70 unsur  dan yang perlu diperhatikan adalah Hg, Pb, Cd, Cu, Cr, Co dan Mo karena unsure-usnru ini yang lebih sering terkandung pada tanah yang tercemar.
Tanah secara alami telah mengandung logam berat meskipun hanya sedikit. Berdasarkan analisis Notohadiprawiro dkk (1991) jenis tanah Vertisol Sragen, Ferrassol Karanganyar (Solo), dan Regosol kuningan Yogyakarta mengandung logam berat 20.9-49.8 (Zn), 18.7- 35.4 (Cu), 5.6- 15.1 (Pb), dan 6.4-28.8 ppm (Ni).Kadarnya pun tergantung dari bahan induk pembentuk tanah itu sendiri. Tanah pun memiliki kemampuan dalam menyerap logam berat yang berbeda untuk tiap jenis tanah berdasarkan bahan induk penyusun tanah tersebut. Menurut standar umum kadar Pb dan Cd yang boleh ada pada tanah adalah masing-masing 150 ppm dan 2 ppm namun untuk jenis tanah yang berasal dari batuan beku (Charlena, 2004)
logam berat berbahaya karena berpotensi mengganggu kesehatan organism apabila masuk kedalam jaringan tubuh organism tersebut. Sebagian tanaman memerlukan logam berat sebagai unsure hara. Namun, dalam jumlah yang sangat sedikit. Yang menjadi permasalahan apabia terjadi akumulasi logam berat dalam tanah akibat penggunaan bahan kimia pertanian yang berlebihan. Logam berat yang diserat tanaman dalam jumlah yang besar akan meracuni tanaman dan menurunkan kualitas hasil tanaman. Lalu hal ini akan berimlikasi kepada manusia malalui rantai makanan.


Kandungan Logam Berat dalam Pupuk

Logam berat biasanya terkandung dalam bahan kimia pertanian seperti pupuk dan pestisida. Pupuk biasanya mengandung logam berat sebagai bahan tambahan. Pupuk yang sering bahkan selalu mengandung logam berat adalah pupuk buatan anorganik. Namun pupuk organik belum tentu bebas dari kandungan logam bera. Hal tersebut dipernguhi oleh sumber bahan organik yang digunakan sebagai bahan baku pupuk organik.
Table beriku akan menjelaskan tentang kadar logam berat yang terkandung dalam berbagai jenis pupuk baik itu pupuk organik maupun pupuk anorganik (ppm).

Unsur
Pupuk Fosfat
Pupuk Nitrat
Pupuk Kandang
Kapur
Kompos
B
5-115
-
0,3-0,6
10
-
Cd
0,1-170
0,05-8,5
0,1-0,8
0,04-0,1
0,01-100
Co
1-12
5,4-12
0,3-24
0,4-3
-
Cr
66-245
3,2-19
1,1-55
10-15
1,8-410
Cu
1-300
-
2-172
2-125
13-3580
Hg
0,01-1,2
0,3-2,9
0,01-0,36
0,05
0,09-21
Mn
40-2000
-
30-969
40-1200
-
Mo
0,1-60
1-7
0,05-3
0,1-15
-
Ni
7-38
7-34
2,1-30
10-20
0,9-279
Pb
7-225
2-27
1,1-27
20-1250
1,3-2240
Sb
<100
-
-
-
-
Se
0,5
-
2,4
0,08-0,01
-
U
30-300
-
-
-
-
V
2-1600
-
-
20
-
Zn
59-1450
1-42
15-566
10-450
82-5894
(Alloway,1995).
Dari table diatas, dapat dilihat bahwa kandung beberapa logam berat dalam beberapa jenis pupuk tergolong cukup tinggi bahkan sdah berada diatas ambbang toleransi yang dapat ditampung oleh alam. Sebagai contoh pupuk fosfat mengndung Pb antara 7 – 225 ppm. Hal ini sudah berada di atas ambang tolensi logam Pb yang sekitar 150 ppm. Sedang kan Cd yang terkandung dalam pupuk fosfat berkisar antara 5-115 ppm. Angka ini tergolong tinggi karena kadar Cd yang masih bisa ditolerir hanya 2 ppm.
Pupuk yang diberikan ketanah secara intensif akan sangat berbahaya bagi tanah serta tanaman yang ada diatasnya. Hal ini karena beberapa jenis pupuk mengandung logam berat dalam kadar ang sangat tinggi. Kadar yang tinggi ini akan sangat berbahaya jika terjadi akumulasi secara terus menerus dan membuat pertumbuhan dan kualitas serta kuantitas hasil tanaman menurun. Selain itu logam berat yang terakumulasi terlalu banyak akan mengganggu aktivitas mikrobia atau bahakan meracuninya.
Oleh karena itu diperlukan kebijaksaan serta perngetahuan yang cukup untuk melakukan pemupukan sehingga tidak mencemarai lingkuungan. Hal ini karena kelestarian lingkungan akan menunjang pertumbuhan dan hasil tanaman serta kualitas hasil tanaman yang akan mempengaruhi  kesehatan manusia.

Cara Penanganan Pencemaran Logam Berat dalam Tanah

Solusi untuk menanggulangi pencemaran logam berat yang terjadi di lahan pertanian dapat di bagi menjadi  tiga yaitu, penaggulangan logam berat secara fisik, kimia dan biologi.
Tanah sawah yang telah tercemar logam beratdapat ditanggulangi secara fisik melalui pencucian dan penggunaan bahan organik (Sukmana, at el, 1986). Prinsip dari metode ini adalah dengan penghilangan logam berat dengan pencucian atau dengan membuat logam berat itu tidak aktif dengan bahan organik. Pencucian dilakukan dengan memasukkan air irigasi yang tidak tercemar logam berat ke tanah yang sedang diolah, kemudian membuang air tersebut melalui saluran drinase.
Selain penanggulangan pencemaran logam berat secara fisik ada juga penanggulangan pencemaran logam berat secara kimia. Ada dua metode yang dapat digunakan dalam penaggulangan secara kimia ini, yaitu dengan  metode pengapuran.
Cara kimia yang bisa digunakan adalah dengan metode pengapuran. Sebagian dari unsure logam berat terutama Pb dapat larut ditanah atau tersedia bagi tanaman dalam keadaan tanah masam, sehingga dapat menyebabkan tanaman menyerap Pb secara berlebihan dan bersifat racun bagi tanaman itu sendiri. Dengan pengapuran tanah tidak akan terlalu masam sehingga logam berat seperti Pb tidak akan berada ditanah dalam bentuk tersedia bagi tanaman (Tan, 1991). Dalam keadaan basa terjadi penambahan muatan negatif jadi, peningkatan pH tanah umumnya akan meningkatkan muatan negatif sehingga kemapuan koloid tanah dalam menjerap kation akan meningkat (Priyono, 2005).
Selain cara kima dan fisik ada pula cara biologi yang dapat digunakan sebagai alternative cara penaggulangan pencemaran logam berat di tanah. Penanggulangan pencemaran logam berat secara biologi di bagi dua yaitu metode  Fitoremediasi ( menggunakan tumbuhan untuk menyerap logam berat) dan metode Bioremediasi (menggunakan mikrobia).
Metode Fitoremediasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan tumbuhan yang dapat menyerap logam berat di tanah. Salah satu tumbuhan yang dapat menyerap logam berat adalah Eceng Gondok (Eichormia crassipes). Walaupun dalam petanian Eceng Gondok dikenal sebagi gulma namun tumbuhan ini dapat menyerap logam berat dan resisten terhadap toksisitas logam berat tersebut. Tumbuhan eceng gondok yang hidup di atas air dapat menyerap logam berat Pb  sebanyak 5,167 ppm atau 96,4 % dan logam berat Fe turun sebanyak 3,177 ppm atau 65,45 % dalam kurun waktu tujuh hari (Hasim, 2005).
Fitoremidiasi dengan Eceng Gondok dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi logam berat yang terbawa oleh air sehingga tidak menambah logam berat dalam tanah. air yang telah dibersihkan dengan Eceng Gondok dapat digunakan untuk mencuci tanah yang tercemar logam berat yang caranya sama dengan metode fisik yang telah disebutkan diatas.


Kesimpulan

  1. Logam berat merupak unsure yang berbahaya bagi tanaman serta lingkungan yang akan mempengaruhi kesehatan manusia,
  2. Pupuk merupakan salah satu sumber pencemaran logam berat ditanah karena kandungan logam berat yang ada di dalam pupuk tersebut,
  3. Baik pupuk organik maupun pupuk anorganik dapat mengandung logam bberat tergantung dari bahan bbaku serta bahan tamahan yang diberikan ke pupuk,
  4. Logam berat yang mencemari tanah dapat ditanggulangi baik secar fisik, kimia, maupun biologi.











DAFTAR PUSTAKA

Chrlena.2004.Pencemaran Logam Berat Pb Dan Cd Pada Sayur-Sayuran.IPB.Bogor.

Hasim.2005.Eceng Gondok Pembersih Polutan Logam Berat.Kompas.Jakarta.

Mulyati, et al.2006.pupuk dan Pemupukan.Mataram University Press.Mataram

Priyono, joko.2006.Kimia Tanah. Mataram university press.mataram.

Tan. K H.1991.Dasar-Dasar Kimia. Tanah.Gadjah Mada University.Yogyakarta.

Sukmana et al.1986.Laporan Penelitian Mengatasi Keracunan Limbah Pengeboran Minyak.Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Tan. K H.1991.Dasar-Dasar Kimia. Tanah.Gadjah Mada University.Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar